Selasa, 30 Desember 2008

Global Warming dan Partisipasi

Banyak orang membicarakan pemanasan global akhir-akhir ini. Sudah tahu kan tentang Global Warming? Jadi tak usahlah aku bahas mengenai hal itu disini. Yang aku soalkan adalah bagaimanakah partisipasi kita dalam mengatasi global warming ini. Baik itu kita sebagai penduduk bumi yang kita cintai, kita sebagai orang awam atau bahkan kita sebagai seorang ahli.
Apakah kita sudah benar-benar peduli dengan nasib bumi kita? Jawabnya sepele, itu tergantung dari apa yang kita perbuat sehari-hari. Kalau kita suka naik kendaraan beremisi tinggi, kalau kita masih membuang sampah sembarangan terutama sampah berbahaya dan sampah non organik, kalau kita tidak pernah menanam pohon dan merawatnya, kalau kita mengganti pohon-pohon besar dengan bangunan-bangunan beton, kalau kita menambang alam dengan seenak-enaknya tentu artinya kita TIDAK, tidak peduli maksudku. Sebaliknya kalau kita berbuat sebaliknya maka kita IYA, iya peduli tentunya.
Sayangnya banyak diantara kita tidak merasa kalau kita pas lagi TIDAK, lihatlah waktu kita piknik, misalnya ke suatu pantai yang indah. Kita berangkat naik mobil/motor, disana kita makan-makan enak, bungkusnya dari plastik karena gak ada tempat sampah atau tempat sampahnya jauh kita buang saja itu plastik ke pantai. Sepulang kita dari pantai kita merasa senang dan puas karena telah menikmati pantai yang indah, tanpa menyadari sumbangan kita walaupun kecil terhadap pencemaran alam. Namun kalau kita melihat betapa menumpuknya sampah non organik dan sampah berbahaya dilaut, yang semakin hari semakin bertambah banyak dan semakin pesat pertambahannnya, barulah kita sadar. Oh iya ya seharusnya sampahnya tadi aku buang di tempat sampah biar dibuang atau dibakar di tempat yang benar atau aku bungkus lalu aku buang di tempat sampah di depan rumah biar diangkut tukang sampah.
Contoh lain kadang-kadang kalau kita membuat suatu bangunan yang kita pikirkan hanyalah bagaimana kemegahan bangunan yang kita buat itu, kita tidak memikirkan pengurangan kehijauan di tempat itu. Menurutku sebaiknya walaupun kita membangun sesuatu hendaklah kita memikirkan juga tentang penanaman pohon kembali dan perawatannya, supaya kita menyisihkan tanah untuk ditanami.
Kita bisa membuat contoh-contoh lain berdasarkan profesi dan kegiatan kita sehari-hari.
Aku sebagai seorang penjual makanan misalnya selalu mengumpulkan sampah-sampah organik dari jualanku dan dari pekaranganku untuk aku jadikan pupuk, terus sampah-sampah non organik dan sampah berbahayanya aku bakar atau aku buang ke tempat sampah di depan rumah supaya diambil tukang sampah dan dibuang/dibakar ditempat yang tepat, dan tidak membuangnya di tanah pekaranganku karena bisa menyebabkan pencemaran tanah dimana sampah-sampah tersebut sangat sulit diuraikan oleh tanah, yang bila aku buang di tanahku pekaranganku pohon-pohon tidak bisa tumbuh secara baik. Lihatlah hasilnya aku selalu merasa sejuk di rumahku sendiri dengan adanya pohon-pohon yang tumbuh baik.
Apakah aku sudah berbuat IYA?
Iya aku sudah peduli dengan kelestarian alam dengan perbuatan kecilku sehari-hari.
Bagaimana dengan anda? Marilah kita bersama-sama melakukan IYA, iya peduli kelestarian alam kita sendiri, di bumi kita tercinta.
CATATAN :
Tulisan ini aku buat terinspirasi dari sampah-sampah kaleng, sampah plastik, sampah botol dan gelas minuman di pantai Prigi, dan dari sampah yang sama di WBL disebelah jet coaster kalau tidak salah, dicepitan pantainya aku lihat banyak orang membuang sampah disana dan bukannya ditempat sampah yang disediakan.

3 komentar:

  1. Met kenal ya... blognya bagus
    Tuk global warning mendengarnya saja aku sudah ngeri ... tapi penyebab bencana ada disekitar kita....misalnya selokan tertutup sampah, di bawah bangku anak-anak sekolah kertas di sobek-sobek, ibu rumah tangga buang limbah plastik dicampur dengan limbah yang mudah terurai dengan sembarangan dllll dan bagaimana bangsa ini mau maju lho ngurusi limbah saja belum mampu.
    Aku setuju dengan panjenengan ..... berbuat dari hal kecil-kecil lho wong kita memang orang kecil dan yang besar biar diurus orang besar yaitu DPRD dan PEMDA misal memikirkan bagaimana limbah dapat diolah menjadi kompos tidak hanya pandai membuang di TPA di Pagerwojo .. yang yang ujung-ujungnya kita yang kena bencna... tahun kemarin sempat longsor. Sukses terus nulis ku tunggu tulisnya ya

    BalasHapus
  2. Met Kenal ya ...
    Blognya bagus. Masalah global warning masalah dunia penyebabnya selain rumah kaca juga dr lingkungan sekitar kita, misalnya penggunaan kertas yg berlebih, pembuangan sampah plastik yang sembarangan, pembakaran sampah, dan sebagainya. Untuk itu pencegahan dari kita-kita orang kecil dapat berpartisipasi: (1) hemat penggunaan listrik; (2) bedakan sampah platik dan sampah basah; (3) makanan dengan sayur-sayuran. Yang jadi masalah adalah di setelah dipilah siapa yang bertanggung jawab mengelola sampah, kalau ujung-2nya hanya dibuang ditempat TPA sama saja. Alternatif pemecahan: PEMDA membuat pengolahan sampah sampai menjadi kompos.

    BalasHapus
  3. Met kenal juga bu Dyah...
    Terimakasih commentnya ya maaf baru bisa njawab sekarang, maklum udah luama gak tak buka blogku ini.
    Wah bu Dyah sekarang udah jadi pengawas ya? Tapi jangan ngawasi saya lho bu, he he he, soalnya saya bukan guru.
    Saya juga sependapat dg ibu tentang pengelolaan sampah oleh PEMDA sebaiknya jangan berhenti di TPA. Mestinya ada tindak lanjut bagi pendaurulangannya dan juga pengelolaan selanjutnya mau dijadikan kompos atau gas ataupun yang lain yang bermanfaat dan kalau bisa menjadikannnya bersih kembali (tanpa sampah) dengan memanfaatkan semaksimal mungkin keberadaan sampah tersebut. Kita bisa mencontoh negara-negara yang telah mengelola sampahnya secara baik dan benar. Tentu ini biayanya mahal, tetapi jauh lebih mahal lagi nanti kalau sudah menjadi gunung sampah, bisa nglongsori manusia, lha bagaimana ...
    Kita juga bisa memulainya dari sampah rumah tangga kita sendiri, misalnya kita pilah2 antara sampah kering dan sampah basah, antara plastik, logam dan bahan2 berbahaya. Kita jual pilahannnya ataupun kita buang ditempat sampah dalam keadaan terpilah-pilah untuk memudahkan pendaurulangannya. Dan mestinya aktifitas pemilahan sampah ini diwajibkan bagi tiap penduduk. Untuk selanjutnya tidak mandeg di TPA tapi diproses lagi supaya tidak menjadi gunung sampah. Kados pundi usul kulo meniko? Mugi2 wonten ingkang maos nggih bu ... Siapa tahu ujug2 ada peraturan tentang memilah sampah ini dan peraturan tentang pengelolaan sampah yang bener2 baik dan bener2 bener, terus ujug2 juga peraturan itu bisa dilaksanakan, ujug2 juga bagi yang melanggarnya bener2 diberi sanksi, ini namung saupomo saupami ...
    Mugi2 gusti Alloh mireng dongaku iki... amien.
    Tulisan berikutnya masih belum ada ide lho bu ... Apa ya enaknya?

    BalasHapus